
Sekarang ini sepertinya kita menjadi sangat peka terhadap semua hal yang berbau lokal, entah kenapa baru sekarang-sekarang ini begitu heboh. Sehingga di dalam dunia desain sendiri sepertinya konten lokal menjadi sesuatu yang sangat menarik. Bila kita membuat karya dengan konten lokal, respon yang di dapatkan mayoritas pasti positif, terlepas itu karya personal atau komersial.
Tentu ada beberapa hal yang memicu nasionalisme kita, seperti di bom beberapa kali, dan yang paling menjadi titik balik nya adalah sewaktu salah satu kebudayaan kita di klaim oleh bangsa lain. Sejak itu kita menjadi merasa bangga bila memakai Batik, atau dengan lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia yang benar. Dan kita menjadi sedikit fanatik (fanatik yang positif) apabila mendengar kata konten lokal.
Konten Lokal?
Saya menjadi bertanya kepada diri sendiri, lalu sebenarnya konten lokal dalam konteks desain grafis itu apa?
Apakah cukup hanya dengan menggunakan elemen grafis budaya lokal pada karya kita? semisal Batik yang sangat populer. Sehingga banyak desainer yang mulai mempergunakan elemen Batik dalam karyanya, ataupun penggunaan elemen grafis budaya kita yang lain.
Sebenarnya semua itu tidak salah juga, memang benar menggunakan elemen grafis salah satu budaya kita itu termasuk konten lokal. Tetapi yang membuat miris, kadang penggunaannya hanya bersifat visual. Ketika di tanya mengapa menggunakan batik, kebanyakan hanya menjawab “ya supaya lebih Indonesia…”, sampai disini mungkin saya merasa harus memikirkan kembali arti konten lokal.
Solusi Lokal
Dari hasil diskusi singkat dengan beberapa teman saya mendapat sedikit kejelasan. Konten lokal dalam desain grafis itu adalah suatu solusi yang menggunakan desain grafis untuk memecahkan masalah pada suatu lingkup lingkungan tertentu saja.
Contohnya, penggunaan Batik di pulau Jawa tentu sangat pas, apalagi jika di tambahkan penggunaan bahasa (copy writing) yang mengena dan menempatkan karya sesuai dengan kebiasaan suatu kelompok sosial di pulau Jawa. Tetapi belum tentu karya tersebut tepat jika di gunakan di Kalimantan atau pulau selain Jawa.
Jadi desain grafis dengan konten lokal hanya bisa di gunakan untuk memecahkan masalah di satu lingkup/daerah saja. Tidak sekedar hanya dengan Batik atau Wayang. Tentu dapat dimengerti mengapa kita sering lari ke Batik dan Wayang jika di minta menggunakan konten lokal, pertama, kita hidup di Jakarta (di pulau Jawa), pusat pemerintahan Indonesia. Kedua, Batik dan Wayang memang jauh lebih populer dibanding budaya lainnya.
Bagaimana menurut pendapat kamu? Apakah konten lokal itu?
Mari kita saling berdiskusi di kolom komentar









desain lokal adalah …. *nggak bisa jelasinnya*
contoh desain lokal dalam typo:
- tulisan rumah makan padang
- tulisan “Tambal Ban”
- tulisan warung-warung di pinggir jalan
contoh desain lokal lainnya:
- gambar2 di belakang truk
- gambar-gambar di tembok dengan media seadanya (bukan aerosol)
- desain gapura 17 agustusan
Konten Lokal:
- Konten yang mengandung sedikitnya 70% budaya lokal. Baik dari segi tema, bahan dan sebagainya. (ga nyambung ya penjelasannya?)
contoh:
- T-shirt bergambar Batik
Dari yang saya tangkep selama ini, budaya lokal tidak hanya batik , ulos ataupun pakaian daerah saja
pada era modern ini konten lokal dari design grafis dapat dihubungkan dengan tema distro dan clothing, seperti :
- Penggambaran perang baratayudha melalui t-shirt
- Penggambaran gagahnya gatot kaca melalui t-shirt
- Penggunaan batik sebagai hoodie , topi , laptop softcase,dll
dan apapun juga dapat digabungkan agar tidak terkesan ‘norak’ , ‘jadul’ ataupun ‘kontemporer’…konten lokal harus hidup dalam perkembangan design grafis, jgn hanya bersifat ‘mendadak nasionalis, mendadak hilang’
*cuma pendapat pemula
CMIIW guys
Sepertinya pengertian konten lokal masih erat secara visual yah
tapi intinya tidak harus konten lokal = visual budaya lokal kok, bisa saja visualnya modern tapi memakai bahasa/copywriting lokal (daerah)
Apa pengunaan bahasa indonesia termasuk konten lokal? lokal disini maksudnya daerah atau indonesia ya?
bahasa sudah pasti konten lokal, maksud pembahasan ini lebih ke opini, kalau konten lokal itu tidak harus selalu batik (atau “visual” budaya lokal yang lain)
Indonesia sendiri identitas nya ada pada kesatuan budaya lokal, tidak ada satu yang pasti seperti negara lain, well sekarang ini batik sudah bisa di bilang Indonesia, tapi sebenarnya banyak juga yang lain..
Menerapkan art tradisional dari kehidupan sehari-hari (kita hidup di Indonesia, masa tidak ada inspirasi tradisional ? -thinking villagers =D)
Dan seperti komentar-komentar kk kk yang diatas, bahwa benar Indonesia bukan hanya batik. Masih ada 33 provinsi lainnya yang punya budaya berbeda-beda.
Masalahnya? Banyak juga desainer yang belum tahu seluruh budaya Indonesia di seluruh provinsi.
Cara Penyelesaiannya? pelajari budaya lewat buku Atlas atau sumber lainnya (e.g:Internet) #inspirasiSD. Dan terapkan!
Rangkumannya, Don’t “Not Action Talk Only”
intinya bercerita tentang segala sesuatu yg bersifat lokal, ngga harus dengan batik atau wayang saja, bisa saja contohnya dengan bendera merah putih atau garuda pancasila, atau apa saja yg penting bersifat lokal/nasionalis.
:d
hm..menurut saya konten lokal itu konten yang ngangkat hal – hal yang merakyat, dulu sempet nguber2 batik (emank ini karya kebangaan kita sih…^^)
setelah nyemplung ke periklanan baru dhe tau ternyata ngiklanin formula pake tukang bajaj ato bus 91, bisa jadi salah satu ide berkonten lokal, justru kadang batik malah terlalu ekslusif untuk dijadikan konten lokal… ^^
konten lokal menurut ku mungkin ga cuma dari segi budaya seperti wayang, batik, tarian tradisional dll, tapi juga bisa dari kebiasaan masyarakat setempat, cara berbicara berbahasa – bersosialisasi – cara bersikap masy indonesia yang mgkn bisa dibuat dlm bentuk ilustrasi….
atau penggunaan background yg berciri khas indonesia, spt motif anyamannn
kl utk di photography mgkn bs dipadukan dengan benda-benda yang umum digunakan masyarakAT setempat
(misalnya sepeda ontel, becak, membawa bakul di atas kepala, penggunaan topi petani dll)
pokoknya yang jauh dari unsur internasional atau budaya negara lain
*hihi nyambung ga sih jawaban ku?