
Setiap kita pasti pernah bertemu dan bekerjasama dengan klien yang membuat kita tidak bisa tidur pada waktu malam, membuat resah, sampai kita bermimpi buruk. Sebenarnya apa sih klien mimpi buruk itu?
Yang pasti ini merupakan tipe klien yang mempunyai kesan yang tidak bagus waktu kita bekerja dengannya, mulai dari tidak profesional, mempunyai selera yang buruk, keras kepala, mau murah saja, mau cepat selesai, dan seterusnya (kamu bisa menambahkan list nya sendiri).
Tetapi karena kita hidup di dunia yang dinamis, pasti ada saja suatu waktu kita bertemu dengan klien bertipe seperti ini, jadi bagaimana cara kita bisa mendeteksi dan menghadapinya?
1. Komunikasi
Ini merupakan hal yang esensial, kita harus bisa memulai komunikasi yang baik. Dengan begitu kita jadi lebih mengetahui seluk beluk klien kita, baik secara personal dan bisnis yang sedang di jalankan.
Komunikasi merupakan tahap awal kita untuk mendeteksi apakah kira-kira klien ini nanti akan menyusahkan kita atau tidak. Walaupun hanya bisa berkomunikasi melalui email/instant messenger (karena berbeda negara misalnya), kita bisa menilai mereka dari cara menggunakan bahasa dan penggunaan kalimat.
2. Referensi Projek
Sebaiknya kita memulai dengan mencari referensi terlebih dahulu (ini bila sudah positif klien kita termasuk tipe mimpi buruk) dan presentasikan kepada klien. Cara ini untuk meminimalisir revisi yang kelewat batas di tengah proses desain. Karena kita sudah mempunyai referensi, dan klien sudah menyetujui referensi tersebut, maka akan lumayan terlihat jelas tujuan dan target klien kita.
Sehingga walaupun komunikasi kurang lancar, kita tetap dapat stay on track dan tidak menebak-nebak maunya sang klien tersebut apa. Dari sana kita juga bisa mengetahui selera klien, dan seberapa antusias klien dengan projek nya sendiri.
3. Sketsa/Draft/Wireframe
Jujur saja untuk hal yang ini saya masih berlatih untuk juga memperlihatkannya kepada klien, karena biasanya sketsa itu hanya untuk pribadi saya sendiri saja.
Tetapi belakangan saya menyadari bahwa sketsa itu penting untuk di tampilkan kepada klien. Tujuannya sudah jelas untuk mempercepat proses kerja dan review dari klien. Dan yang paling penting meminimalisir revisi di tengah jalan yang seringkali membuat kita frustasi dan akhirnya menyalahkan dan membenci klien.
4. Transfer Konsep
Inilah tujuan sketsa tersebut, kita bisa lebih menekankan kepada konsep dan ide kita, tanpa terganggu visual yang setengah matang (misal : sketsa/mock up setengah jadi di Photoshop). Sehingga klien mengerti kenapa kita membuat desain seperti ini, dan tujuan apa yang kita ingin capai dari desain tersebut.
5. Tidak Gratis
Walaupun teman, sebaiknya kita bersikap profesional. Istilah populer nya, “teman ya teman, bisnis ya bisnis”. Memang kebanyakan klien mimpi buruk datang dari orang yang dekat dengan kita, seperti teman , saudara dan keluarga. Dengan kita memberikan harga yang pantas (misal, dengan diskon) maka kita juga tidak merasa di rugikan, apalagi kalau sudah berkali-kali “minta tolong”. Kalau seperti itu terus mungkin kedepan nya malah akan merusak hubungan kita.
Bagaimana dengan yang bukan teman/keluarga? Sudah pasti tidak gratis!
. Caranya masih sama dengan cara menganani teman/keluarga, mungkin bisa memberikan diskon khusus (kalau klien baru/langganan) atau harga yang memang pantas untuk kita. Karena harga yang pas (tidak terlalu mahal, tidak terlalu murah dari sisi klien dan kita) akan memberikan kesan profesional secara tidak langsung.
Apalagi jika klien ini tipe mimpi buruk!, jangan sampai kita bekerja dengan harga yang tidak masuk kriteria kita di tambah dengan beban revisi terus menerus, sampai yang paling parah, tidak tahu kejelasan akhir projek.
6. Berikan yang Terbaik.. Untuk Saat Ini.
Ada suatu waktu kita tidak bisa menolak klien mimpi buruk ini, misalnya, karena harga yang di tawarkan cukup lumayan. Cara satu-satunya yang positif, adalah dengan mengerjakan projek ini dengan sebaik-baik nya. Kita harus tetap profesional walaupun klien kita tidak profesional, kita harus tetap tepat waktu walaupun klien kita tidak tepat waktu.
Tetapi tentu untuk saat ini saja, jika pada kesempatan berikutnya kita berhadapan dengan klien ini lagi, mungkin jalan terbaik adalah melewatkannya. Kita bekerja bukan untuk di kendarai oleh uang, klise memang, tetapi itulah kenyataannya. Kalau sudah tahu klien mimpi buruk ini tidak baik untuk kita (secara uang, waktu, dan sikap) haruskah kita bekerjasama lagi dengan mereka?
Apakah kamu pernah mengalami klien mimpi buruk ini? Bagaimana kamu menghadapinya?
Sumber Gambar : Flickr Creative Commons
Mari bergabung dengan Jurus Grafis di Facebook Page dan Twitter. Tidak ingin ketinggalan posting terbaru? berlangganan saja melalui RSS dan Email

![BLUEPRINT 3D [VIDEO]](http://farm6.staticflickr.com/5072/7085649795_378daa3262_s.jpg)


![SUBWAY [VIDEO]](http://farm7.staticflickr.com/6219/7037439417_9818589c92_s.jpg)




Klien g yg sekarang parah bgt.. dan dia ga bisa diajak komunikasi sama sekali. Dikasi saran malah ngeyel, ntar begitu ada masalah, dia ngontek g n minta diberesin SECEPATNYA (that’s his fave word). Kalo gak diikutin apa maunya, dia menghasut pake bilang, “Wah, pakai design itu repot ya ternyata, jadinya lama” (secara dia termasuk type orang yang result oriented, bukan yang ngerti kalau semua ada prosesnya).. Huh! bener2 nyebelin!
Ngadepin klien kayak gini bener2 harus banyak sabar n melatih gaya “senyum di kala tak ingin”
i smell stress people LOL tapi bener juag sih kata Zam di bawah, pertama-tama pasti begitu, tapi klo proses kita tetep profesional lama2 mereka ngerti juga kok sil..
klo ga juga yah, tinggalkan sajahh, daripada stress hehehe
jika sudah punya nama, memang kita bisa memilih-milih mana klien yang kita terima, tapi jika masih bergerilya memang harus menjalankan beberapa poin diatas jika berhadapan dengan klien seperti itu
Hahaha.. iya. kalo di dunia jual beli jasa sih udah biasa ketemu yang seperti ini.. masalahnya saya designer utk bidang konstruksi jadi berhubungan sama kenyamanan tempat tinggal.. kalau kliennya ngeyel seperti itu susah juga.
Yang penting kita udah bekerja seprofesional mungkin, kalau masih ngeyel juga sih memang tinggalin aja Cad
Sebenernya kita pasti akan bertemu dengan klien-klien seperti ini sampai kapanpun, hanya saja tingkat “mimpi buruk”-nya yang beda. Klo udah sampe tingkatan yang parah emang lebih baik ditinggalkan…
Malah tahun lalu gue pernah ketemu klien yg kliatannya lancar-lancar aja tapi ujung-ujungnya ngebatalin mendadak dengan berbagai macem alasan, blom lama ini dia minta tolong lagi tapi gak gue ladenin…
*wah jadi ajang curhat nih… hehehe
Wah pas nih, kemarin di kelas bimbingan KP ada yang curhat seputar ini. IMHO, ini jawaban yang saya sampaikan ke para mahasiswa bimbingan saya…
Ada baiknya semenjak awal kita menjelaskan tahapan/proses kerja yang akan kita lalui. Tahapannya apa saja, target tiap tahapan apa saja, konsekuensi tiap tahapan bila tidak dilalui atau mengulang, dan konsekuensi2 lain yang bersifat kompensasi biaya, misalnya pembatalan kerja. Termasuk juga batasan revisi, hak cipta, hak penggunaan, cara pembayaran.
Lalu baiknya ditulis dan disertakan di surat penawaran (quotation), dan di bagian bawah quotation tersebut dicantumkan, “Dengan terselenggaranya pekerjaan ini berarti pihak pemberi pekerjaan menyetujui seluruh term yang ada pada tahapan kerja (termasuk hak cipta, cara pembayaran dll)”
Apakah dengan cara ini proses menjadi lancar? Ya nggak juga hehehe… tapi setidaknya kita sudah memberikan rambunya, sudah memiliki pijakkan. Bila klien melanggar, ya berarti kita tau kualitas si klien, dan kita pun ada pegangan perjanjian untuk berargumentasi.
Yang lebih penting bagi saya adalah mendidik klien untuk tau proses desain itu semestinya seperti apa. Dan menempatkan mereka sebagai partner untuk maju. Sayang energi bila klien kita tempatkan terus sebagai “musuh” hehehe — wong kita nyari uangnya dari mereka kok =)
eh cara quote dr comment orang gmn y cad?
btw.. dari mas Danu ni
“Yang lebih penting bagi saya adalah mendidik klien untuk tau proses desain itu semestinya seperti apa. Dan menempatkan mereka sebagai partner untuk maju. Sayang energi bila klien kita tempatkan terus sebagai “musuh” hehehe — wong kita nyari uangnya dari mereka kok =)”
setuju!, tapi ga sedikit klien2 yang ga mau ngerti prosesnya, cuma pengen trima jadi..kadang2 terkesan “sotoy” malah. yang model gini yg seru buat dihadepin ni huehuehueh.
yup setuju juga sama pak Danu
@ FIK _ iyah blom ada fungsi quote yah, coba nanti di implementasikan hehehe
ya namanya klien memang bermacam-macam, tapi kalau kita sudah sukses menangani yang tipe “nyebelin” kayak gitu di jamin untuk berikutnya udah agak entengan..
kalau kerja di tempat orang lain, dapet klien gini ya ga bisa di gimanain lagi, hadapi saja
kalau udah kerja sendiri sih lebih baik pikir2 lagi, cukup sekali kalau menurut gue. Boleh lanjut kalau bayaran nya menggiurkan hahaha
wah bagus bgt tipsnya
aq jg pernah ngadepin klien kayak gitu
waktu tu dpt project ngerjain company profile,
si klien selera desainnya rendah bgt, pas desainnya uda siap si klien bolak balik minta revisi, yg lbh parahnya si klien minta ganti desain secara keseluruhan, trus si klien ngasih contoh desain yg sebelumnya pernah dibuat desainer laen, aq tekejut bgt, contoh desain kayak gt kok dibilang bagus, dr segi warna, tipografi dan layout nggak bgt deh. textnya warna warni, iconnya pekek yg bawaan ms word gt, desainnya semak bgt.
karena mereka minta yg seperti itu terakhir aku kasi yg kayak gt jg,
cuma nggak sreg aja ngerjainnya….
boleh nggak aku bikin kayak gt?
halo Aris, wah2 semua orang pasti punya pengalaman ini nih
kalau memang taste nya klien kurang bagus kayak gitu, di coba di arahkan, misal dengan kasih contoh yang bagus.
Dan jelasin juga, kalau contoh yang kita kasih itu tidak sekedar terlihat bagus, tapi bisa meningkatkan awareness, dan pastinya penjualan. biasanya klien akan lebih mau mengerti kalau sudah menyangkut soal duit dan goal.
Lalu coba di bandingkan desain dari desainer yang dulu itu dengan contoh yang kamu buat atau cari, plus minus masing2 ada dimana. Jadi kita tidak langsung mematahkan desain kesukaan klien, saya pernah mencoba cara ini dan berhasil kok
akhirnya klien mengikuti saran dan desain yang saya buat, dan yang terpenting kita jado melibatkan klien dalam proses kreatif.
wah bagus jg sarannya
ntar kucoba deh
thanks ya
hehe
Pengalaman sama, dan aku lebih banyak menemukan manusia seperti itu karena aku hampir blog designer (hampir, soalnya belum pantas disebut desainer) yang masih SMA, otomatis kliennya anak remaja semua yang kadang keinginannya aneh-aneh dan banyak yang norak.
Tapi namanya juga masih dalam tahap belajar
Yup2.. klien saya yang ngeyel itu awalnya saya kasi saran2 sesuai dengan posisi saya sbg disainer.. tapi kalau pada akhirnya dia ngotot, ya saya sih berusaha ngikutin selera dan maunya.. untungnya sih hasil akhirnya bagus.. hehehe
Ada juga sih yang tidak mengikuti saran saya dan ended up kecewa dengan hasil akhir. Kalau sudah seperti itu mereka biasanya sadar sendiri.
Menurut saya sih, asalkan kita bisa bersikap profesional dan menghadapi klien seperti itu dengan kepala dingin, eventually mereka pasti akan menghargai kita.
mantap tipsnya..saya tertarik di point 5 dan 6.
makasi atas tips dan sarannya.
sukses buat jurus grafis.
thank you!
Bro,
Sepakatt!! although kalo memang klien kita ngga bisa di edukasi lagi, what can you say? ni biasanya yg tipe – tipe orang tua sich, hehee..
Anyway, always refreshing to see your works. Please keep creating lovely things ok
gw tertarik banget dengan topik diatas beserta semua jawaban + masukan yang diberikan…coz kebetulan saat ini gw lagi ngadepin “nightmare client” kayak gt….
and gw sangat terbantu banget dengan topik n postingan teman2 designer skalian.
cuman gw skarang rada2 bingung cos yang gw hadapin skarang itu (yang jadi nightmare client” na ntu temen gw…mungkin dari awal gw mang dah salah see, gak ngasih ttng perincian dan “rambu2″ dalam design yg gw garap.
trus baru kebentur urusan kyk gini baru dah gw kerepotan…gw mo nanya klo skarang gw bicarain ulang ttng konsep kerja dsb ke dia bener gk yah tindakan gw ( dipandang dari segi profesionalisme dlm bekerja)
jadi bingung sendiri neeh….mohon masukannya yah,,
klo temen sendiri memang agak ga enak sih, tapi kalau sudah terlanjur begini lebih baik sih bilang baik2 aja
jangan takut bicarain ulang tentang konsep kerja, kontrak dll
ini langkah yg terbaik kok klo menurut gue, dan klo dia memang teman yg bener pasti mau ngerti
kalau masih ga mau ngerti yah, ambil aja sebagai pelajaran, selesaikan secara profesional
next time kalau dia kasih projek lagi pakein kontrak dan mungkin naikin harga? hehehe
supaya klo memang agak “ngeselin” yah terbayar lah gondok nya dengan harga yg agak tinggi itu
masalah dunia untuk mneghadapi klien ak dh biasa,tpi kalo di dunia marketing radio ini adalah pertama kali yang ak alami.jdi tuk masalah mengahadapi klien ak harys bnyak belajar lagi.klien apapun tetap dilayani dengan senyuman n sabar truz.mkch bwt msukannya.