<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jurus Grafis - Tutorial / Tips / Inspirasi Desain &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://jurusgrafis.com/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurusgrafis.com</link>
	<description>Photoshop &#124; Illustrator &#124; Print Design &#124; Web Design &#124; Template Desain Gratis</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 05:05:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
		<item>
		<title>Siapa Saja yang Berperan dalam Pembuatan Sebuah Website?</title>
		<link>http://jurusgrafis.com/artikel/siapa-saja-yang-berperan-dalam-pembuatan-sebuah-website/</link>
		<comments>http://jurusgrafis.com/artikel/siapa-saja-yang-berperan-dalam-pembuatan-sebuah-website/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 06:54:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richard Fang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Website & Interface]]></category>
		<category><![CDATA[Back End]]></category>
		<category><![CDATA[Copywriter]]></category>
		<category><![CDATA[Designer]]></category>
		<category><![CDATA[Developer]]></category>
		<category><![CDATA[Front End]]></category>
		<category><![CDATA[Interface]]></category>
		<category><![CDATA[Peran]]></category>
		<category><![CDATA[Website]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurusgrafis.com/?p=2501</guid>
		<description><![CDATA[Kebanyakan orang menganggap sebuah website itu hanya di buat oleh satu orang saja, yaitu web designer. Tidak heran masih banyak desainer grafis lokal dengan basic print design yang mengira membuat website itu sulit. Tahun lalu saya sempat menawarkan teman (seorang desainer grafis juga) untuk mencoba terjun ke dalam desain website, tetapi tanggapannya adalah &#8220;gue ga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<p>Kebanyakan orang menganggap sebuah website itu hanya di buat oleh satu orang saja, yaitu web designer. Tidak heran masih banyak desainer grafis lokal dengan basic print design yang mengira membuat website itu sulit.</p>
<p><span id="more-2501"></span></p>
<p>Tahun lalu saya sempat menawarkan teman (seorang desainer grafis juga) untuk mencoba terjun ke dalam desain website, tetapi tanggapannya adalah &#8220;gue ga bisa code&#8221; , &#8220;ribet&#8221; dan lainnya yg sejenis. Ya, itulah sekilas potret mayoritas teman-teman desainer lokal saat ini.</p>
<p>Sangat disayangkan, karena menurut saya media yang akan paling banyak di gunakan dalam 2-3 tahun kedepan adalah media digital. Coba lihat<a href="http://store.apple.com/id/browse/home/shop_ipad/family/ipad?mco=MTY5NjUyMTY" target="_blank"> iPad sudah bisa di order online</a> dari website Apple, dengan harga mulai dari Rp.4,799,000. Sangat terjangkau sekali bukan? Dan ini baru awal, coba bayangkan kalau sudah menjamur.</p>
<p>Pembuatan produk digital (dalam hal ini saya ingin menitikberatkan pada website) melibatkan peran beberapa profesi. Website yang bagus biasanya di kerjakan oleh sekumpulan orang dengan spesialisasi yang berbeda namun saling bersinergi. Beberapa di antaranya adalah,</p>
<h3>1. Web Interface Designer</h3>
<p>Spesialisasi ini seharusnya bisa di adaptasi oleh teman-teman dengan basic print design. Memang butuh waktu untuk mempelajari cara kerja website, memahami cara kerja code dan developer, sampai dengan mengamati tren desain website terkini. But it&#8217;s worth it! Sekali kamu menyelami dunia interface design, kamu akan menyelam semakin dalam  </p>
<p>Peran interface sama pentingnya dengan developer, ini sama saja seperti kita mendesain sebuah logo. Kita menggunakan elemen visual untuk menyampaikan pesan, menggunakan simbol untuk mempermudah pengguna berinteraksi.</p>
<p>Intinya tetap komunikasi, malah semakin kita mendalami interface kita akan lebih banyak mempelajari kebiasaan pengguna (usability), yang menurut saya, secara tidak langsung kita mempelajari psikologi orang lain (misalnya, reaksi pengguna terhadap warna tertentu, permainan tipografi dan lainnya).</p>
<h3>2. Front End Developer</h3>
<p>Kalau kamu sudah mengerti code dan kamu senang meng-coding desain yang sudah kamu buat sendiri, maka sebaiknya kamu memilih peran front end developer. Secara teknis, front end developer akan menghasilkan html dan css dari desain yang telah di buat di photoshop.</p>
<p>Front end developer yang baik mempunyai mata yang jeli dan biasanya juga mempunyai sense of art. Kalau basic nya memang desainer maka akan lebih baik lagi. Itu sebabnya banyak juga web interface designer yang bisa berperan sebagai front end developer juga.</p>
<h3>3. Back End Developer</h3>
<p>This is where the magic happens. Tampilan sudah bagus, sekarang tinggal memberikan &#8216;kemampuan&#8217; pada website. Back End Developer ini bisa di bilang pekerja di belakang layar. Pengguna tidak melihat langsung tetapi bisa merasakan dan berinteraksi dengan website.</p>
<p>Misalnya saat kita mengupload foto ke facebook. Ini merupakan proses yang lumayan panjang. Tombol browse akan membuka window, menarik data dari komputer kita, lalu mengupload ke server, di display kembali di front end (page edit photo) sehingga user bisa melihat fotonya, memberikan deskripsi, tagging, dan yang terakhir publish.</p>
<p>Tetapi pengguna tidak merasakan proses yang panjang itu bukan? Itu karena interface dan fungsi bersinergi dengan baik.</p>
<h3>4. Copywriter</h3>
<p>80% tampilan website adalah text dan mayoritas pengguna pasti membaca text untuk mendapatkan informasi. Disinilah peran copywriter sangat di perlukan. Selain penampilan yang bagus, sebuah website harus mempunyai &#8216;cara/gaya berbicara&#8217; yang mudah di mengerti dan khas sesuai dengan market masing-masing.</p>
<p>Peran copywriter ini terkadang bisa menjadi faktor x. Coba lihat bagaimana Twitter mengubah &#8220;What are you doing now&#8221; menjadi &#8220;What&#8217;s Happening&#8221;. Sangat terasa perbedaannya. Hanya dengan mengubah kalimat, Twitter bertransformasi menjadi sumber berita bagi seluruh dunia.</p>
<h3>Kesimpulan</h3>
<p>Sebuah website bukan di buat hanya seorang web designer (istilah web designer menjadi rancu sekarang ini). Minimal membutuhkan 2 peran, interface designer dan front / back end developer. Jadi, kalau kamu mempunyai basic sebagai print designer, saya harap kamu mau meluangkan waktu mengenal dan mempelajari desain website (setidaknya kamu bisa menjadi interface designer).</p>
<p>Percayalah ini merupakan masa depan dunia dan website baru permulaan saja. Nantinya tidak menutup kemungkinan kita akan menggunakan platform yang berbeda (aplikasi misalnya), tetapi dasar nya akan tetap sama, keempat peran ini tidak akan terpisahkan.</p>
<p>Bagaimana dengan kamu? Ada peran yang terlewatkan? silakan berkomentar  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurusgrafis.com/artikel/siapa-saja-yang-berperan-dalam-pembuatan-sebuah-website/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebangkitan Interface Design di Indonesia</title>
		<link>http://jurusgrafis.com/artikel/kebangkitan-interface-design-di-indonesia/</link>
		<comments>http://jurusgrafis.com/artikel/kebangkitan-interface-design-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Nov 2010 03:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richard Fang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Website & Interface]]></category>
		<category><![CDATA[Designer]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Interface]]></category>
		<category><![CDATA[Panggilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurusgrafis.com/?p=2490</guid>
		<description><![CDATA[Judul di atas adalah sebuah harapan. Mengingat perkembangan dunia Teknologi Informasi di Indonesia yang sudah lumayan pesat, saya rasa sudah saatnya interface design (dalam web, mobile, apps etc) mempunyai peran yang lebih lagi di banding tahun-tahun sebelumnya. Interface sebagai Ujung Tombak Kalau kita perhatikan, belakangan ini sudah sangat sering start-up lokal bermunculan (silakan cek DailySocial.net). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<p>Judul di atas adalah sebuah harapan. Mengingat perkembangan dunia Teknologi Informasi di Indonesia yang sudah lumayan pesat, saya rasa sudah saatnya interface design (dalam web, mobile, apps etc) mempunyai peran yang lebih lagi di banding tahun-tahun sebelumnya.<span id="more-2490"></span></p>
<h3>Interface sebagai Ujung Tombak</h3>
<p>Kalau kita perhatikan, belakangan ini sudah sangat sering start-up lokal bermunculan (silakan cek <a href="http://dailysocial.net" target="_blank">DailySocial.net</a>). Layanan yang di tawarkan juga semakin beragam, fungsi-fungsi yang sangat menarik dan bahkan membantu kegiatan kita sehari-hari, baik itu dalam hal lifestyle, informasi dan produktifitas.</p>
<p>Namun sayangnya sebagian besar masih berkutat pada fungsi. Secara desain dan interface masih banyak yang kurang. Hal ini sangat saya sayangkan, karena interface ini sebenarnya ujung tombak dari produk start-up itu sendiri. Interface akan langsung berhadapan dengan pengguna. Ibarat pesulap yang membius penonton dengan penampilan, gerakan tangan dan kata-kata, sementara sang asisten (code, development, fungsi)  menyiapkan trik di belakang.</p>
<p>Fungsi dan manfaat boleh jadi killer, tapi kalau dari cara menampilkannya saja tidak menarik atau yang paling parah, membingungkan, maka jangan heran kalau start-up ini tidak berjalan lama.</p>
<h3>Function is King. Interface is Queen.</h3>
<p>Keduanya harus saling mendukung satu sama lain. Jika salah satu peran itu tidak terpenuhi maka produk tidak akan maksimal. Apakah kita mau menghasilkan produk yang setengah-setengah?</p>
<h3>Panggilan untuk Seluruh Desainer di Indonesia</h3>
<p>Menurut pengamatan saya, saat ini jumlah desainer lokal yang fokus di interface design masih sangat sedikit. Jumlahnya tidak sebanding dengan developer (front &amp; back end) yang lebih mudah di temukan, dan tentunya mereka ini kualitasnya sudah tidak perlu di ragukan lagi.</p>
<p>Untuk mempermudah para start-up (klien potensial) mendapatkan interface designer yang baik, saya harap <strong>teman-teman yang spesialisasinya di bidang interface design bisa berkomentar di bawah dan memberikan link ke portfolio masing-masing</strong>. Semoga dengan begini peran interface design di Indonesia bisa lebih di tingkatkan.</p>
<p>Dan yang paling penting, we&#8217;re making the web a better &amp; beautiful place. Are you in?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurusgrafis.com/artikel/kebangkitan-interface-design-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>5 Elemen Penting Website Corporate</title>
		<link>http://jurusgrafis.com/artikel/5-elemen-penting-website-corporate/</link>
		<comments>http://jurusgrafis.com/artikel/5-elemen-penting-website-corporate/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Oct 2010 10:15:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richard Fang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Website & Interface]]></category>
		<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Corporate]]></category>
		<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Elemen]]></category>
		<category><![CDATA[Interface]]></category>
		<category><![CDATA[Perusahaan]]></category>
		<category><![CDATA[Website]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurusgrafis.com/?p=2455</guid>
		<description><![CDATA[Website corporate / perusahaan merupakan perpanjangan tangan secara online dari sebuah perusahaan. Selain fungsinya untuk memberikan informasi, tak jarang juga banyak perusahaan menggunakan websitenya untuk mendapatkan klien baru. Pada kesempatan ini kita akan membahas beberapa elemen penting yang biasanya / wajib terdapat pada desain website corporate. Ok, langsung saja kita mulai. 1. Tagline / Slogan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<p>Website corporate / perusahaan merupakan perpanjangan tangan secara online dari sebuah perusahaan. Selain fungsinya untuk memberikan informasi, tak jarang juga banyak perusahaan menggunakan websitenya untuk mendapatkan klien baru.</p>
<p><span id="more-2455"></span></p>
<p>Pada kesempatan ini kita akan membahas beberapa elemen penting yang biasanya / wajib terdapat pada desain website corporate. Ok, langsung saja kita mulai.</p>
<h3>1. Tagline / Slogan Perusahaan</h3>
<p>Bisa bagian dari logo, bisa juga tidak. Yang pasti fungsi tagline adalah meringkas produk / jasa yang di tawarkan perusahaan kepada konsumen. Sehingga dalam sekejab saja pengunjung sudah tahu secara garis besar tentang perusahaan tersebut. Biasanya mulai dari 2 kata hingga 1-2 kalimat pendek, Kalau sudah lebih dari itu sudah bukan tagline lagi.</p>
<h3>2. Informasi Perusahaan &amp; Kontak</h3>
<p>Ini jelas mutlak ada di website corporate, pengunjung jadi bisa mengetahui latar belakang perusahaan, jasa yang di tawarkan bahkan sampai ke jajaran direksi jika perlu. Yang tak kalah penting adalah info kontak, mulai dari nomor telepon, email dan alamat yang jelas. Untuk alamat bisa juga di bantu dengan menambahkan peta (bisa di buat ilustrasi peta sendiri atau dengan menggunakan google maps).</p>
<h3>3. Jasa / Produk yang Di Tawarkan + Foto</h3>
<p>Info produk harus bisa di komunikasikan dengan mudah sehingga pengunjung dapat dengan cepat menangkap tujuan perusahaan ini dan apa keuntungannya untuk konsumen. Lebih baik lagi jika di perkuat dengan foto produk. Kalau produk fisik mutlak di foto dengan baik, kalau perlu gunakan jasa fotografer profesional dan highlight elemen penting yang ada pada produk.</p>
<p>Kalau produk tak berwujud (jasa / digital goods), maka gunakan gambar produk yang sebenarnya. Bisa berupa portfolio, foto event yang sedang di selenggarakan (untuk event organizer misalnya). Intinya tampilkan sejelas mungkin produk yang di tawarkan.</p>
<h3>4. Call to Action</h3>
<p>Biasanya berupa tombol dengan kata-kata seperti &#8220;Pesan Sekarang &#8211; Dapatkan Potongan Harga 35%&#8221; atau yang sejenisnya. Bisa juga semudah &#8220;Hubungi Kami Hari Ini Juga!&#8221;. Tujuannya untuk mengubah pengunjung menjadi klien potensial yang bisa kita hubungi dan akhirnya bisa menjadi klien kita. Pada akhirnya tujuan semua website komersial memang untuk konversi bukan?  </p>
<h3>5. Blog / News</h3>
<p>Bagian yang satu ini biasanya di jadikan anak tiri pada website corporate. Namun kalau di gunakan secara benar blog bisa menjadi salah satu media marketing yang efektif tanpa harus membuang biaya yang besar. Gunakan blog / news untuk memberikan info menarik yang berkaitan dengan produk / jasa perusahaan, selain sebagai media press release perusahaan.</p>
<h3>Inspirasi Desain Website Corporate</h3>
<p>Berikut ini beberapa contoh website corporate yang terlihat sedikit berbeda dari biasanya, tetapi tetap terasa aura profesionalnya. Dan yang paling penting mereka tetap dapat dengan jelas memberikan informasi &#8220;mereka itu siapa&#8221; dengan mudah kepada pengunjung.</p>
<p><strong>Aol</strong></p>
<p><a href="http://corp.aol.com/"></a></p>
<p><strong>Duchy Originals</strong></p>
<p><a href="http://www.duchyoriginals.com/"></a></p>
<p><strong>Dyson UK</strong></p>
<p><a href="http://www.dyson.co.uk/"></a></p>
<p><strong>Goldman Sachs</strong></p>
<p><a href="http://www2.goldmansachs.com/"></a></p>
<p><strong>GreenHill SAVP</strong></p>
<p><a href="http://greenhillsavp.com/"></a></p>
<p><strong>IDC &#8211; Industrial Door Contractors </strong></p>
<p><a href="http://www.hangardoor.com/"></a></p>
<p><strong>Intel</strong></p>
<p><a href="http://www.intel.com/?en_US_01"></a></p>
<p><strong>Scout</strong></p>
<p><a href="http://www.scout.com.au/"></a></p>
<p><strong>Sustain Ability</strong></p>
<p><a href="http://www.sustainability.com/"></a></p>
<p><strong>Trek Bikes</strong></p>
<p><a href="http://www.trekbikes.com/int/en/"></a></p>
<h3>Kesimpulan</h3>
<p>Desain website corporate tidak harus selamanya membosankan. Untuk dapat menghasilkan desain seperti contoh di atas kita harus mendalami dulu visi, budaya, produk dan nilai perusahaan. Dari sana kita baru bisa memutuskan akan menonjolkan bagian mana dari perusahaan, setelah itu baru kita masuk ke tahap desain yang bisa mendukung visi, budaya, produk dan nilai perusahaan tersebut tanpa melupakan unsur komunikasi yang mudah di terima oleh pengunjung.</p>
<p>Bagaimana menurut kamu? Apakah desain website corporate itu selamanya harus membosankan? Atau ada cara lain agar website perusahaan bisa menjadi pusat perhatian di kalangan Netizen?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurusgrafis.com/artikel/5-elemen-penting-website-corporate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>4 Alasan Memulai Karir di Website Kompetisi Desain</title>
		<link>http://jurusgrafis.com/artikel/alasan-memulai-karir-di-website-kompetisi-desain/</link>
		<comments>http://jurusgrafis.com/artikel/alasan-memulai-karir-di-website-kompetisi-desain/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 07:52:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richard Fang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[99Designs]]></category>
		<category><![CDATA[desainer grafis]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Kompetisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurusgrafis.com/?p=2240</guid>
		<description><![CDATA[Banyak yang memandang website kompetisi desain online sebagai permasalahan besar dan aib bagi para pekerja kreatif. Tetapi kita harus melihat dari sudut pandang yang berbeda. Era Internet Ya, ini jaman nya internet dimana segala sesuatu bisa terkoneksi dengan mudah. Perubahan akan terus terjadi (tidak terkecuali di industri desain grafis). Dan kita sebagai desainer harus tetap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<p>Banyak yang memandang website kompetisi desain online sebagai permasalahan besar dan aib bagi para pekerja kreatif. Tetapi kita harus melihat dari sudut pandang yang berbeda.<span id="more-2240"></span></p>
<h3>Era Internet</h3>
<p>Ya, ini jaman nya internet dimana segala sesuatu bisa terkoneksi dengan mudah. Perubahan akan terus terjadi (tidak terkecuali di industri desain grafis). Dan kita sebagai desainer harus tetap bisa mengantisipasi perubahan jaman, atau kita bisa tergilas persaingan yang semakin ketat.</p>
<p>Perlu di garis bawahi kalau kita mengikuti kompetisi desain secara online, kita harus sadar kalau kita sedang melakukan spec work (kerja yang tidak jelas bayarannya). Hal inilah yang menyebabkan ada beberapa desainer (mayoritas senior) yang tidak menyukai platform baru ini. Desainer tidak boleh melakukan kerja yang tidak jelas bayaran nya, well, itu kalau kamu sudah di tahap expert (tingkat tinggi).</p>
<h3>Kesempatan Tak Terbatas</h3>
<p>Tapi bagi desainer pemula (dalam hal pengalaman dan network), kompetisi desain adalah kesempatan yang sedang membuka tangan nya lebar-lebar, selanjutnya tergantung diri kita sendiri. <a href="http://richardfang.com/7-alasan-untuk-memulai-karir-melalui-internet/" target="_blank">Raih atau tidak sama sekali</a>.</p>
<p>Saya sendiri memulai karir dari <a href="http://99designs.com/" target="_blank">99designs</a>, karena itu saya akan memberikan beberapa alasan kenapa desainer setidaknya harus mencoba kemampuannya di website kompetisi desain.</p>
<h3>1. Tempat Belajar</h3>
<p></p>
<p>Alasan pertama ini sudah pasti menjadi dasar kenapa kita mengikuti kompetisi desain. Sudah cukup kita belajar membuat mock up / code sendiri secara offline. Paling maksimal hanya di pamerkan di galeri seperti deviantart, blog pribadi atau facebook album. Sekaranglah saatnya mencoba di medan yang sebenarnya, meresapi brief, berkomunikasi dengan klien, revisi sampai dengan hasil akhir.</p>
<p>Jangan lupa, ini kompetisi. Jadi kalau kamu memainkannya dengan benar, maka hadiah dollar akan menunggu   Yang ini anggap saja sebagai bonus kerja keras kita.</p>
<h3>2. Mencari &amp; Mengumpulkan Portfolio Nyata</h3>
<p></p>
<p>Memulai karir sendiri harus dimulai dengan tindakan yang nyata. Manifestonya adalah portfolio. Calon klien akan menilai kita dari portfolio yang sudah kita kerjakan sebelumnya. Dan ini adalah kunci utama untuk membuka pintu karir yang kamu dambakan.</p>
<p>Kalau kamu sudah mengikuti beberapa kompetisi walaupun tidak selalu menang, kamu tetap bisa memasukkan hasil karya terbaik kamu kedalam portfolio. Dalam web desain, kamu tetap bisa memakai desain yang tidak menang tersebut untuk di jual kepada klien yang berminat, atau di modifikasi lagi untuk projek mendatang. Tidak ada ruginya kan?</p>
<h3>3. Batu Loncatan</h3>
<p></p>
<p>Setelah mempunyai portfolio yang cukup, langkah selanjutnya ada pada diri kamu sendiri. Tetap mengikuti kompetisi atau mulai mencari klien. Saya sendiri lebih memilih langkah yang kedua. Alasannya, kompetisi memang menyenangkan, tetapi saya sudah harus memikirkan perbandingan waktu kerja dengan hasil yang di dapat. Dan tentu saja kompetisi tidak bisa menjamin kita akan selalu menang.</p>
<p>Saya lebih memilih klien yang mengontak saya secara langsung setelah melihat portfolio saya di 99designs atau di <a href="http://richardfang.designerscouch.org/portfolio/" target="_blank">website portfolio showcase</a>. Karena klien tipe ini setidaknya sudah 80% pasti akan memakai jasa saya, biasanya hanya masalah harga yang menjadi bahan pertimbangan mereka.</p>
<h3>4. Bisa Menjadi Pekerjaan Tetap</h3>
<p></p>
<p>Lebih suka berkompetisi? Tidak masalah   , dengan portfolio yang sudah terkumpul dan jumlah kemenangan yang sudah bisa di banggakan, saya yakin kamu akan lebih mudah menang (biasanya klien sudah menfavoritkan desainer yang sudah sering menang).</p>
<p>Sekarang kamu sudah bisa menjadikan ajang kompetisi sebagai pekerjaan tetap, bukan sebagai media belajar dan coba-coba. Untuk beberapa tips nya sudah pernah saya bahas di <a href="http://www.ruangfreelance.com/2009/09/14/7-tips-berkompetisi-dan-mendapatkan-klien-di-99designs/" target="_blank">Ruang Freelance</a>.</p>
<p>Nah, sudah tahu kan alasan-alasan utama kenapa kita patut mencoba kemampuan kita di website kompetisi desain? Ayo mulai latihan dan berkompetisi! Salam Zuperr!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurusgrafis.com/artikel/alasan-memulai-karir-di-website-kompetisi-desain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Konten adalah Raja, Maka Desain adalah &#8230;?</title>
		<link>http://jurusgrafis.com/artikel/jika-konten-adalah-raja-maka-desain-adalah/</link>
		<comments>http://jurusgrafis.com/artikel/jika-konten-adalah-raja-maka-desain-adalah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 05:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Graha Nurdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[desainer grafis]]></category>
		<category><![CDATA[Konten]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurusgrafis.com/?p=1812</guid>
		<description><![CDATA[Hi everyone! Kembali lagi dengan saya Graha Nurdian di Jurus Grafis. Pada kesempatan ini saya ingin membuat posting diskusi mengenai hubungan desain dan konten, banyak para blogger yang berniat mencari &#8216;nafkah&#8217; melalui dunia maya ini dengan membuat blog, banyak juga orang yang mengatakan bahwa Konten adalah Raja Telah banyak debat, jajak pendapat dan komentar mengenai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<p>Hi everyone! Kembali lagi dengan saya Graha Nurdian di Jurus Grafis. Pada kesempatan ini saya ingin membuat posting diskusi mengenai hubungan desain dan konten, banyak para blogger yang berniat mencari &#8216;nafkah&#8217; melalui dunia maya ini dengan membuat blog, banyak juga orang yang mengatakan bahwa<br />
<span id="more-1812"></span></p>
<blockquote><p><strong>Konten adalah Raja</strong></p></blockquote>
<p>Telah banyak debat, jajak pendapat dan komentar mengenai hal tersebut, yang jelas cukup menjadi kontroversial dikalangan para blogger, sehingga para blogger cenderung membiarkan desain blog mereka acak &#8211; acakan karena mereka menganggap konten adalah satu-satunya hal yang paling penting.</p>
<p>Widget yang tidak beraturan, peletakan link sembarangan, dan gambar yang tidak tepat (dan tidak efektif) membuat saya sedih sebagai desainer (karena mereka kurang peduli terhadap desain blog nya sendiri   ).</p>
<p>Tetapi apa yang terjadi jika orang  melihat website anda dengan judul headline yang menakutkan? Apakah mereka akan berpikir telah mengunjungi website spam dan dengan segera menekan tombol back? (atau bahkan tombol close!) Hal itulah yang akan kita diskusikan pada artikel ini.</p>
<h3>Jika (Raja) Konten Sedang Berada di Hutan</h3>
<p></p>
<p>Coba kita umpamakan konten adalah seekor singa (sang raja hutan), apa yang dibutuhkan singa supaya terlihat menyeramkan dan kuat?. Sudah pasti auman yang keras, gigi yang besar dan kuat serta bulu tebal yang melingkari leher.</p>
<p>Jika kita mengumpamakan konten sebagai si raja hutan, maka &#8220;gigi yang besar&#8221; , &#8220;auman yang keras&#8221; , &#8220;bulu leher yang tebal dan indah&#8221; sudah jelas adalah desainnya bukan? Ini merupakan contoh sempurna bagaimana <strong>konten blog/website anda tidak bisa menjadi raja tanpa dukungan dari desain blog/website tersebut</strong>.</p>
<h3>Konten Sebagai Raja di Papan Catur</h3>
<p style="margin-top: 0px;margin-right: 0px;margin-bottom: 15px;margin-left: 0px;padding: 0px"></p>
<p style="margin-top: 0px;margin-right: 0px;margin-bottom: 15px;margin-left: 0px;padding: 0px">Konten anda merupakan raja bukan? Mari kita umpamakan konten adalah raja dalam permainan catur, di posisi manakah desain website anda di papan tersebut? Apakah sebagai prajurit (Pion) yang berdiri di garis depan dan melindungi raja dari musuh? Lalu bagaimana dengan benteng, ratu, kuda, menteri dan peran penting lainnya dalam permainan catur?</p>
<p style="margin-top: 0px;margin-right: 0px;margin-bottom: 15px;margin-left: 0px;padding: 0px">Desain anda harus diperlakukan seperti semua peran dan langkah di papan catur karena mereka adalah bagian yang paling sering anda gunakan dan satu &#8211; satunya yang membuat permainan catur anda menjadi berbeda. Jadi, pastikan desain anda memiliki efek seperti itu &#8211; karena &#8220;<em>Raja anda&#8221; </em>bergantung kepada mereka.</p>
<h3>Desain Sebagai Jubah dan Mahkota yang Bagus</h3>
<p style="margin-top: 0px;margin-right: 0px;margin-bottom: 15px;margin-left: 0px;padding: 0px"></p>
<p style="margin-top: 0px;margin-right: 0px;margin-bottom: 15px;margin-left: 0px;padding: 0px">Menurut saya, jika konten adalah raja, maka desain haruslah seperti jubah yang berkilau dan mahkota yang dikenakan oleh sang raja. Hal itulah yang membuat raja terlihat berwibawa dan memancarkan citra yang positif.</p>
<p style="margin-top: 0px;margin-right: 0px;margin-bottom: 15px;margin-left: 0px;padding: 0px">Coba bayangkan jika sang raja keluar dengan kaus dalam, kotor, dan kolor (celana pendek), siapa yang akan menanggapinya dengan serius? Desain website anda juga begitu, harus diperlakukan seperti hiasan kue untuk konten <em>raja</em> anda.</p>
<h3>Opini anda</h3>
<p>Baiklah sekarang kita sampai di akhir artikel, bagaimana pendapat anda mengenai topik ini? Apakah anda mendukung konten itu sepenuhnya raja? Ayo sampaikan melalui kolom komentar dibawah  </p>
<p><em><strong>Update :</strong> Artikel ini merupakan saduran dari <a href="http://designbump.com/originals/if-content-really-king-then-what-design" target="_blank">If Content is Really King, Then What is Design?</a></em></p>
<p><em>Btw just for info saya juga punya blog ber niche desain seperti Jurus Grafis loh sebagai pelengkap bacaan desain anda. Silakan berkunjung ke <a title="Graha Design Blog" href="http://www.grahanurdian.web.id">Graha Design Blog</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurusgrafis.com/artikel/jika-konten-adalah-raja-maka-desain-adalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>6 Cara Meningkatkan Kualitas Artikel</title>
		<link>http://jurusgrafis.com/artikel/cara-meningkatkan-kualitas-artikel-blog/</link>
		<comments>http://jurusgrafis.com/artikel/cara-meningkatkan-kualitas-artikel-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 08:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richard Fang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurusgrafis.com/?p=1713</guid>
		<description><![CDATA[Hal yang paling menarik dari aktivitas blogging adalah kita bisa belajar dan berbagi pada saat yang bersamaan. Nge-blog adalah suatu langkah &#8220;nothing to lose&#8221; dan tidak ada salahnya. Menurut saya, dengan media blog kita bisa membangun pertemanan dan jaringan yang lebih luas. Beberapa bulan terakhir ini saya melihat mulai banyak blog desain lokal yang bermunculan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<p>Hal yang paling menarik dari aktivitas blogging adalah kita bisa belajar dan berbagi pada saat yang bersamaan. Nge-blog adalah suatu langkah &#8220;nothing to lose&#8221; dan tidak ada salahnya. Menurut saya, dengan media blog kita bisa membangun pertemanan dan jaringan yang lebih luas.</p>
<p><span id="more-1713"></span></p>
<p>Beberapa bulan terakhir ini saya melihat mulai banyak blog desain lokal yang bermunculan, indikasi yang sangat bagus!   Saya berharap pertumbuhannya bisa terus makin banyak dan makin berkualitas pula konten yang di tawarkan. Bicara tentang kualitas artikel artinya kita berbicara tentang inti dari blog itu sendiri yaitu konten.</p>
<p>Kalau kontennya biasa-biasa saja dan bisa di temukan di blog lain, maka kita akan mudah melupakan blog tersebut. Jadi bagaimana caranya meningkatkan kualitas artikel blog kita? Berikut beberapa cara yang bisa digunakan untuk kamu yang baru mau mulai nge-blog atau bagi kamu yang sudah mempunyai blog desain sendiri.</p>
<h3>1. Riset</h3>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/arnybo/2679622216/sizes/l/"></a></p>
<p>Saya suka bagian ini, kebanyakan artikel terbaru yang di tulis di Jurus Grafis merupakan hasil riset dari internet. Karena sebenarnya saya tidak begitu menguasai beberapa topik yang akan saya sampaikan. Jadi saya harus &#8216;belajar&#8217; terlebih dulu dengan melakukan riset selama beberapa hari atau beberapa jam.</p>
<p>Misalnya seperti artikel tentang <a href="http://jurusgrafis.com/artikel/bedah-desain-website-portfolio-penerapannya/" target="_blank">bedah web portfolio</a>, sungguh saya tadinya tidak terlalu memperhatikan beberapa elemen yang di bahas di artikel itu, tapi karena ide dasarnya sudah ada (bedah web portfolio) maka saya hanya tinggal meluangkan waktu untuk mempelajari website portfolio desainer lain, membaca beberapa artikel yang berkaitan dan sebagainya.</p>
<p>Lakukanlah riset maka artikel yang kita tulis akan mempunyai dasar yang kokoh.</p>
<h3>2. Buat Draft Beberapa Poin Penting</h3>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/paulworthington/82648702/sizes/l/"></a></p>
<p>Selagi melakukan riset kita akan menemukan beberapa poin penting yang bisa kita gunakan sebagai tulang punggung artikel kita. Catat poin itu dengan <a href="http://penzu.com" target="_blank">menggunakan Penzu</a>   atau tulis saja di kertas.</p>
<p>Dari poin-poin itu kita bisa mengembangkan kalimat atau paragraf pendukung yang akan memudahkan saat kita menulis nanti. Sebagai tambahan, orang juga lebih suka membaca artikel yang berupa poin daripada paragraf semua yang terlalu panjang dan melelahkan.</p>
<h3>3. Gunakan Gambar yang Tepat</h3>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/anabadili/3375657138/sizes/l/"></a></p>
<p>Untuk memperkuat artikel kita bisa menggunakan gambar yang sesuai dengan topik yang sedang kita bicarakan. Selain untuk fungsi pendukung, gambar juga bisa menjadi tempat &#8216;beristirahat&#8217; bagi mata kita di antara paragraf artikel.</p>
<p>Akan lebih bagus lagi, untuk gambar utama (yang akan terlihat di awal artikel), kita mendesain sendiri gambar tersebut. Selain sudah menjadi keharusan bagi para desainer, cara ini juga memberikan sentuhan personal pada setiap artikel yang kita tulis (bahkan jika kamu hanya bermain dengan tipografi saja, itu sangat berarti).</p>
<p>Dan tentu saja, siapa yang tidak menyukai ilustrasi/foto yang menarik?</p>
<h3>4. Jangan Terburu-buru</h3>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/en321/322710700/sizes/l/"></a></p>
<p>Jangan pernah langsung menekan tombol &#8216;publish&#8217; setelah kita selesai menulis. Biarkan dulu selama 2 jam sampai 1 hari, lalu baca kembali tulisan kita itu. Kalau perlu sempurnakan kata-kata yang kita pakai, mungkin ada beberapa kalimat yang terdengar aneh, link yang belum di tambahkan atau kita bisa mencari gambar yang lebih pas dan tepat.</p>
<p>Santai saja, simpan dulu semua tulisan kamu sebagai &#8216;Draft&#8217;. Kecuali kamu nge-blog dengan gaya &#8216;news&#8217; yang memang di haruskan untuk menjadi yang tercepat berada di publik.</p>
<h3>5. Baca Ulang dan Preview</h3>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/paszczak000/3311707373/sizes/l/"></a></p>
<p>Saya terbiasa menekan tombol &#8216;preview&#8217; terlebih dulu setelah saya selesai menulis. Dengan preview kita bisa melihat dengan jelas dan pasti, akan seperti apa tampilan artikel kita yang sebenarnya. Perhatikan apakah kita lupa memberikan tag h2 atau h3, pemotongan kalimat (text warp) yang nyaman di lihat atau tidak, semua detil harus di periksa walaupun itu hanya barisan kata-kata.</p>
<h3>6. Dengarkan Pembaca</h3>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/chrysti/2417691082/sizes/l/"></a></p>
<p>Cara ini sangat mudah, coba pantau komentar yang ada di blog kamu, perhatikan apakah ada diskusi disana? atau ada pembaca yang memberikan masukan? Resapi semuanya dan gunakan hasil pengamatan komentar itu di posting artikel kamu selanjutnya.</p>
<p>Dengan begini kamu jadi tahu mana artikel yang di sukai pembaca dan jenis artikel apa yang bisa mengundang diskusi seru dari para pembaca. Sebagai tambahan, jumlah komentar tidak bisa menjadi ukuran, melainkan isi komentarlah yang menjadi ukuran sebuah artikel mengena atau tidak di pikiran pembaca.</p>
<h3>Kesimpulan</h3>
<p>Membuat blog itu sangat mudah, namun mempertahankan dan membesarkannya itu yang agak sulit. Well, tidak sulit juga seharusnya, saya yakin kita semua bisa melakukannya asal kita memberikan dedikasi yang tidak tergantikan, yaitu waktu.</p>
<p>Punya cara meningkatkan kualitas artikel yang lain? Kolom komentar sudah menunggu  </p>
<p><em><strong>Tautan Terkait:</strong></em><br />
<a href="http://jurusgrafis.com/artikel/ide-menulis-blog-sebagai-desainer-grafis/" target="_blank">7 Ide Menulis Blog Sebagai Desainer Grafis</a><br />
<a href="http://jurusgrafis.com/artikel/tips-efektif-untuk-memasarkan-diri-sebagai-desainer-grafis-secara-online/" target="_blank">9 Tips Efektif Untuk Memasarkan Diri Sebagai Desainer Grafis Secara Online</a></p>
<p><em>Jangan sampai ketinggalan artikel menarik lainnya, ayo berlangganan    dengan <a href="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=JurusGrafis&amp;loc=en_US" target="_blank">Email</a> atau <a href="http://feeds.feedburner.com/jurusgrafis" target="_blank">RSS</a>.    Ikuti juga <a href="http://twitter.com/jurusgrafis" target="_blank">Twitter    Jurus Grafis</a> dan temui <a href="http://www.facebook.com/jurusgrafis" target="_blank">Jurus Grafis    di Facebook</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurusgrafis.com/artikel/cara-meningkatkan-kualitas-artikel-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bedah Desain: Website Portfolio &amp; Penerapannya</title>
		<link>http://jurusgrafis.com/artikel/bedah-desain-website-portfolio-penerapannya/</link>
		<comments>http://jurusgrafis.com/artikel/bedah-desain-website-portfolio-penerapannya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 10:57:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richard Fang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Website & Interface]]></category>
		<category><![CDATA[Bedah Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Desain Website]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Portfolio]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Kasus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurusgrafis.com/?p=1676</guid>
		<description><![CDATA[Website portfolio adalah suatu keharusan bagi semua desainer (baik yang freelance atau yang fulltime bekerja dengan orang lain). Maka dari itu, kali ini kita akan membahas beberapa elemen yang biasanya digunakan ketika mendesain website portfolio. Inti dan tujuan dari website portfolio adalah untuk menunjukan hasil kerja/karya desain kita. Dengan begitu calon klien bisa melihat kemampuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<p>Website portfolio adalah suatu keharusan bagi semua desainer (baik yang freelance atau yang fulltime bekerja dengan orang lain). Maka dari itu, kali ini kita akan membahas beberapa elemen yang biasanya digunakan ketika mendesain website portfolio.</p>
<p><span id="more-1676"></span></p>
<p>Inti dan tujuan dari website portfolio adalah untuk menunjukan hasil kerja/karya desain kita. Dengan begitu calon klien bisa melihat kemampuan kita dan jika cocok maka dia akan menggunakan jasa kita sebagai desainer. Hal lain yang juga penting adalah website portfolio harus mempunyai karakter tersendiri untuk membedakan website kita dari website portfolio lain.</p>
<p>Berikut adalah beberapa elemen yang saya pelajari dari website portfolio yang ada di luar sana.</p>
<h3>1. Portfolio Berada di Halaman Depan</h3>
<p>Ini sudah hampir menjadi template pada semua website portfolio dan memang cara ini sangat efektif. Apa yang kita harapkan kalau kita melihat web portfolio? tentu saja hasil karya desainernya kan?</p>
<p><a href="http://neutroncreations.com/"></a></p>
<p>Selain memudahkan pengunjung (dapat langsung ke inti website), elemen ini juga bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk mengeksplor lebih jauh ke halaman lain di website kita, terlebih jika hasil karya nya sangat unik, menarik atau klien nya merupakan klien besar.</p>
<p><a href="http://www.thinkbrilliant.com/"></a></p>
<h3>2. Presentasi Portfolio</h3>
<p>Setelah melihat karya di Homepage, maka kita akan masuk ke detil tentang karya tersebut. Nah, bagian ini yang biasanya sering di lewatkan oleh kebanyakan desainer. Kita terbiasa hanya menyertakan screenshot, nama projek dan link ke website yang bersangkutan.</p>
<p>Seharusnya kita bisa menjelaskan lebih detil mengenai karya/projek tersebut. Dengan begitu pengunjung mempunyai nilai tambah terhadap kita, tidak hanya sebatas desainer visual saja. Kita bisa menulis beberapa paragraf tentang proses desain, konsep, masukan dari klien yang kita gunakan di desain kita, mengapa kita menggunakan desain dengan gaya tertentu dan lainnya.</p>
<p><a href="http://www.greatworks.se/clients-cases/absolut"></a></p>
<p>Atau yang lebih menarik adalah kita bisa menceritakan seberapa efektif desain yang kita buat itu, misalnya, dalam 6 bulan website klien tersebut bisa mendapatkan 500.000 pengguna baru di karenakan kita menggunakan Sign Up form terselebung (coba dulu baru daftar). Saya yakin hal tersebut akan lebih informatif dan berguna bagi pengunjung atau calon klien kita.</p>
<p><a href="http://yaronschoen.com/projects/casestudy/national_geographic/"></a></p>
<h3>3. Kalimat Pembuka yang Menarik</h3>
<p>Kita biasa menyebutnya Tagline. Kalimat yang menarik bisa menjadi cerminan pribadi kita di dunia maya ini. Terlebih jika kalimat tersebut bisa menjadi semacam slogan bagi kita. Maka secara tidak langsung pengunjung akan mengingat kalimat tersebut dan otomatis mengingat website kita.</p>
<p><a href="http://squaredeye.com/"></a></p>
<p><a href="http://www.wearepixel8.com/"></a></p>
<p>Walaupun elemen ini bersifat opsional, tetapi akan lebih bagus dan efektif jika kita meluangkan waktu memikirkan Tagline yang tepat untuk website portfolio kita sendiri.</p>
<h3>4. Foto/Ilustrasi yang Menarik Perhatian</h3>
<p>Gambar bisa menceritakan lebih banyak daripada kata-kata. Dan bila di sandingkan dengan kalimat pembuka (tagline) yang menarik maka kombinasi tersebut tidak akan terkalahkan.</p>
<p>Kita memang harus belajar sedikit bermetafora untuk mendapatkan hasil yang efektif. Tetapi percayalah jika kita bisa menggunakan cara ini maka website portfolio kita akan berhasil mendatangkan klien baru.</p>
<p><a href="http://www.wearevi.com/"></a></p>
<p><a href="http://www.indofolio.com/"></a></p>
<h3>5. Posting Terbaru dari Blog</h3>
<p>Bagi desainer yang suka menulis artikel atau senang membagikan pemikirannya pada orang lain, bisa menggunakan cara ini. Selain fungsi blog/artikel yang bisa membangun komunitas, kita juga secara bersamaan membangun personal brand. Menurut saya salah satu cara membangun personal brand adalah melalui konten pemikiran kita (yang biasanya di tuangkan dalam bentuk tulisan).</p>
<p><a href="http://simplebits.com/"></a></p>
<p>Bingung mau menulis topik apa? <a href="http://jurusgrafis.com/artikel/ide-menulis-blog-sebagai-desainer-grafis/" target="_blank">Coba gunakan beberapa ide simpel ini</a>. Walaupun kamu merasa diri kamu murni desainer visual, ayo luangkan waktu untuk belajar menulis dan menuangkan kata-kata  </p>
<p><a href="http://orderedlist.com/"></a></p>
<h3>6. Profil Pribadi / Studio</h3>
<p>Halaman ini merupakan halaman terpenting kedua setelah portfolio. Harus dengan jelas dan jujur mendeskripsikan diri sendiri. Alasannya adalah alasan klasik, bagaimana klien mau berbisnis dengan seseorang yang identitasnya tidak jelas?</p>
<p>Coba ceritakan sedikit background pendidikan, pekerjaan sehari-hari, tinggal di kota mana (jika keberatan memberikan alamat lengkap) dan hal unik lain yang ada di diri kamu (misalnya, suka mengoleksi action figure dll). Intinya buatlah halaman About ini se-personal mungkin, karena ini merupakan &#8220;kartunama&#8221; kamu di dunia maya.</p>
<p><a href="http://billytamplin.com/about/"></a></p>
<h3>7. Informasi Kontak yang Jelas</h3>
<p>Kalau pengunjung sudah sampai ke halaman ini, maka bisa di pastikan mereka sudah 75% tertarik dengan kamu. Jadi jangan sia-siakan kesempatan ini. Buatlah semudah dan seinformatif mungkin jika pengunjung mau menghubungi kita, baik itu hanya untuk berkenalan atau mau bekerjasama dalam suatu projek.</p>
<p>Tidak ada salahnya menyertakan alamat email, nomor handphone (jika tidak keberatan) dan alamat kantor/rumah. Ini untuk alasan kenyamanan bila klien bekerjasama dengan kita nantinya.</p>
<p><a href="http://www.gomedia.us/contact/"></a></p>
<p>Salah satu trik yang saya anggap efektif adalah dengan menggunakan form yang bisa di pilih (mau berkenalan saja, mau memberikan projek atau memberikan saran). Cara ini akan memudahkan kita, karena masing-masing pilihan mempunyai subjek yang spesifik yang bisa kita pisahkan inbox emailnya (contoh, untuk berkenalan 1 inbox sendiri, untuk projek 1 inbox sendiri). Jadi kita tidak menerima berbagai macam email di 1 inbox.</p>
<p><a href="http://www.viget.com/contact/web-form/"></a></p>
<h3>8. Detail Harga</h3>
<p>Ini masih menjadi perdebatan apakah etis untuk disertakan pada suatu website portfolio. Kalau menurut saya sah-sah saja, tergantung kepada masing-masing pribadi dan tipe bisnis yang kita jalankan.</p>
<p>Kelebihannya adalah kita tidak akan capai menjawab pertanyaan calon klien tentang harga (yang terkadang tidak berlanjut karena mungkin terlalu mahal). Dengan adanya informasi ini maka kita dapat sedikit memastikan bahwa kalau ada email dari klien baru maka kemungkinan dia akan menjadi klien kita.</p>
<p><a href="http://codecopia.com/services"></a></p>
<p>Kalau masih ingin memberikan detil harga tetapi tidak secara langsung, kita bisa menggunakan kisaran harga, misalnya Rp.1juta &#8211; Rp.4juta atau Mulai dari Rp.3juta. Jadi tidak ada harga yang pasti, karena memang setiap projek mempunyai keunikan tersendiri.</p>
<h3>9. Informasi Ketersediaan Menerima Projek Baru</h3>
<p>Hal ini lumayan penting bagi para freelancer fulltime atau parttime. Calon klien jadi tahu kita available atau tidak pada waktu dia ingin menghubungi kita. Ini akan mempermudah kita dan klien. Jangan sampai sudah berdiskusi panjang lebar tapi ternyata waktu kita tidak ada yang kosong untuk menerima projek baru.</p>
<p><a href="http://www.branded07.com/"></a></p>
<h3>10. Testimonial</h3>
<p>Sama seperti kita berjualan di Kaskus misalnya, testimonial memegang peranan yang penting. Jika tidak ada testimonial maka calon klien akan sedikit berspekulasi jika bekerjasama dengan kita. Mungkin klien hanya melihat dari portfolio kita yang &#8220;wah&#8221; saja.</p>
<p><a href="http://www.84colors.com/index.html"></a></p>
<p>Dengan adanya testimonial (apalagi dari nama yang lumayan terkenal), calon klien baru akan lebih yakin dengan kita. Jadi, jangan lupa meminta testimonial dari klien yang kita anggap mempunyai nama dan projek nya menarik  </p>
<h3>Kesimpulan</h3>
<p>Elemen dan cara-cara di atas adalah elemen umum dalam desain website portfolio. Kita bisa menggunakan semuanya atau hanya beberapa saja. Yang pasti hasil kerja/karya kita, siapa kita dan kemudahan dalam menghubungi kita memegang peranan penting pada website jenis ini.</p>
<p>Seperti biasa, kalau ada yang elemen yang terlewat, silakan berkomentar di bawah!</p>
<p><em>Jangan sampai ketinggalan artikel menarik lainnya, ayo berlangganan   dengan <a href="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=JurusGrafis&amp;loc=en_US" target="_blank">Email</a> atau <a href="http://feeds.feedburner.com/jurusgrafis" target="_blank">RSS</a>.   Ikuti juga <a href="http://twitter.com/jurusgrafis" target="_blank">Twitter   Jurus Grafis</a> dan temui <a href="http://www.facebook.com/jurusgrafis" target="_blank">Jurus Grafis   di Facebook</a>. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurusgrafis.com/artikel/bedah-desain-website-portfolio-penerapannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Desainer Web Harus Bisa Coding?</title>
		<link>http://jurusgrafis.com/artikel/desainer-web-harus-bisa-coding/</link>
		<comments>http://jurusgrafis.com/artikel/desainer-web-harus-bisa-coding/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 02:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richard Fang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Website & Interface]]></category>
		<category><![CDATA[Code]]></category>
		<category><![CDATA[Programmer]]></category>
		<category><![CDATA[Proses]]></category>
		<category><![CDATA[Web Designer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurusgrafis.com/?p=1619</guid>
		<description><![CDATA[Mari kita berdiskusi tentang hal ini, tapi sebelumnya saya mau menyampaikan pendapat tentang &#8220;Apakah desainer web harus bisa coding?&#8221;. Jujur saja, saya jadi agak sedikit gatal setelah membaca salah satu artikel dan beberapa komentar dari Elliot Jay Stocks. Harus Bisa? Apakah desainer web harus bisa coding? Tidak selalu! Tetapi harus &#8216;mengerti&#8217; bagaimana website itu nanti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<p>Mari kita berdiskusi tentang hal ini, tapi sebelumnya saya mau menyampaikan pendapat tentang &#8220;Apakah desainer web harus bisa coding?&#8221;. Jujur saja, saya jadi agak sedikit gatal setelah membaca salah satu artikel dan beberapa komentar dari <a href="http://elliotjaystocks.com/blog/web-designers-who-cant-code/" target="_blank">Elliot Jay Stocks</a>.<span id="more-1619"></span></p>
<h3>Harus Bisa?</h3>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/edduddiee/4275499654/sizes/l/"></a></p>
<p>Apakah desainer web harus bisa coding? Tidak selalu! Tetapi harus<strong><em> &#8216;mengerti&#8217;</em></strong> bagaimana website itu nanti akan di coding. Yang artinya, semua elemen desain yang kita buat di Photoshop harus <em>code-able</em>. Coba intip sedikit tips tentang <a href="http://jurusgrafis.com/artikel/langkah-persiapan-mendesain-website/" target="_blank">persiapan mendesain website</a>.</p>
<p>Saya mengakui, saya tidak merasa nyaman melakukan coding sendiri. Jangan salah, bukan karena saya malas, saya pernah mencobanya dan bahkan beberapa hari yang lalu sempat belajar css basic karena melihat <a href="http://prakasa.me/desain-web/css-basic-get-started/" target="_blank">video tutorial dari Prakasa</a>. (it&#8217;s a good one by the way!).</p>
<p>Namun saya masih merasa kesulitan mengulang pelajaran video tutorial itu dari awal (jika tidak melihat contoh/videonya), mungkin itu karena keterbatasan saya? (sering lupa code yang sudah di pakai). Yang terpenting adalah sekarang saya <em>&#8216;mengerti&#8217;</em> cara meng-coding sebuah website dan hal ini tentu saja akan menambah dasar pemikiran saya pada saat mendesain website di Photoshop.</p>
<h3>Pertimbangan Kemampuan, Waktu dan Kesempatan</h3>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/flygraphix/4246485041/sizes/o/"></a></p>
<p>Kenapa saya tidak meng-coding website (personal dan komersial) saya sendiri?</p>
<p><strong>Pertama</strong>, karena saya merasa kemampuan saya bukan di coding, dan lebih banyak teman yang sangat berkompetensi sekali dalam hal coding, yang bisa di ajak berkerjasama dalam suatu projek website.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, waktu yang di perlukan untuk coding cukup lama, jadi saya lebih baik melimpahkan bagian code ke seseorang yang bisa di percaya, dan saya bisa melanjutkan ke projek lainnya (yang artinya perputaran projek akan lebih menguntungkan dan sistem kerja menjadi lebih efisien dan efektif).</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, belum banyak web desainer yang mengkhususkan diri pada bagian interface dan pengaturan alur informasi pada website. Hal tersebut sedikit sekali berhubungan dengan coding, ini merupakan <em>konsep awal </em>sebuah website. Dan menurut saya bagian ini sama pentingnya dengan code. Percuma website berfitur canggih, efek jquery mencengangkan, tetapi desainnya sungguh menyakitkan hati.</p>
<h3>Akhirnya&#8230;</h3>
<p>Sebagai kesimpulan, seorang desainer web harus &#8216;mengerti&#8217; coding tetapi tidak harus &#8216;bisa&#8217; meng-coding. Tentu saja akan lebih bagus jika &#8216;bisa mengerjakan&#8217; code desainnya sendiri. Dan yang terpenting kita harus menyadari kemampuan kita yang sebenarnya berada di bagian mana.</p>
<p>Seperti yang kita tahu, website jaman sekarang sudah melibatkan banyak elemen, mulai dari interface (desain), code, copywriting, SEO bahkan sampai ke teknik marketing online. Apakah menurut kamu satu orang bisa memberikan semua itu?. Website bukan sekedar PSD to CSS/Html, website lebih dari itu.</p>
<p>Sekarang giliran kamu   silakan berkomentar! atau bila berkomentar tidak cukup, kamu bisa membuat posting sendiri di blog kamu dan link balik ke posting ini supaya teman-teman yang lain bisa tetap mengikuti topik hangat ini  </p>
<p><em>Jangan sampai ketinggalan artikel menarik lainnya, ayo berlangganan  dengan <a href="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=JurusGrafis&amp;loc=en_US" target="_blank">Email</a> atau <a href="http://feeds.feedburner.com/jurusgrafis" target="_blank">RSS</a>.  Ikuti juga <a href="http://twitter.com/jurusgrafis" target="_blank">Twitter  Jurus Grafis</a> dan temui <a href="http://www.facebook.com/jurusgrafis" target="_blank">Jurus Grafis  di Facebook</a>. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurusgrafis.com/artikel/desainer-web-harus-bisa-coding/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>94</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Psikologi Warna Pada Desain Grafis</title>
		<link>http://jurusgrafis.com/artikel/psikologi-warna-desain-grafis/</link>
		<comments>http://jurusgrafis.com/artikel/psikologi-warna-desain-grafis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 19:40:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richard Fang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Metode]]></category>
		<category><![CDATA[Penggunaan]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Warna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurusgrafis.com/?p=1538</guid>
		<description><![CDATA[Warna berfungsi untuk memberikan vibrasi tertentu di dalam suatu desain. Begitu hebatnya kekuatan warna, sehingga bisa memberikan efek psikologis kepada semua orang yang melihatnya. Malah di dalam terapi kesehatan, warna tertentu di gunakan untuk membantu pasien menjadi lebih cepat sembuh, menarik kan? Kali ini kita akan membahas tentang psikologi warna di dalam desain grafis (contoh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<p>Warna berfungsi untuk memberikan vibrasi tertentu di dalam suatu desain. Begitu hebatnya kekuatan warna, sehingga bisa memberikan efek psikologis kepada semua orang yang melihatnya. Malah di dalam terapi kesehatan, warna tertentu di gunakan untuk membantu pasien menjadi lebih cepat sembuh, menarik kan?</p>
<p><span id="more-1538"></span></p>
<p>Kali ini kita akan membahas tentang psikologi warna di dalam desain grafis (contoh yang saya berikan akan berbentuk desain website karena kebetulan saya bergelut di bidang ini) tapi tidak berarti efeknya akan berbeda dengan print atau media yang lain, efek dasarnya akan tetap sama.</p>
<h3>Merah</h3>
<p></p>
<p>Merah adalah warna yang kuat sekaligus hangat. Biasanya di gunakan untuk memberikan efek psikologi &#8216;panas&#8217; , &#8216;berani&#8217; , &#8216;marah&#8217; dan &#8216;berteriak&#8217;. Beberapa studi juga mengindentifikasi merah sebagai warna yang sexy.</p>
<p>Di dalam desain, kita bisa menggunakan warna merah sebagai aksen karena sifatnya yang kuat. Misalnya, foto hitam putih di berikan aksen warna merah sedikit saja sudah bisa membuat foto tersebut menjadi terlihat berbeda.</p>
<p><a href="http://helveti-tweet.geenius.co.uk/"></a></p>
<h3>Hijau</h3>
<p></p>
<p>Hijau adalah warna yang tenang karena biasanya di kaitkan dengan lingkungan dan alam. Di dalam desain, kita bisa menggunakan warna hijau untuk memberikan kesan segar. Dan dengan mudah kita bisa memberikan nuansa membumi dengan kombinasi warna hijau dan coklat gelap.</p>
<p>Kalau warna merah di atas bisa di ibaratkan sebagai musik rock dengan hentakan keras dan cepat, maka warna hijau bisa di ibaratkan sebagai musik klasik (atau musik-musik meditasi). Maka itu berhati-hatilah memadukan merah dan hijau, karena akan sedikit bermasalah. Atau tambahkan saja kuning sehingga menjadi musik Reggae  </p>
<p><a href="http://envato.com/"></a></p>
<h3>Biru</h3>
<p></p>
<p>Biru adalah warna favorit para pria dan termasuk warna yang &#8216;dingin&#8217;. Kalau di dunia desain, biru sering di sebut &#8220;warna corporate&#8221; karena hampir semua perusahaan menggunakan warna biru sebagai warna utamanya. Tidak heran memang, karena biru merupakan warna yang termasuk tenang  dan bersifat penyendiri.</p>
<p>Efek lain warna biru adalah sering di anggap sebagai warna yang sedih (langit biru di malam hari?). Biru juga bisa di pakai untuk menurunkan nafsu makan, karena berkonotasi dengan racun. Jadi gunakanlah warna biru untuk mendesain box obat diet.</p>
<p><a href="http://www.uptrending.com/"></a></p>
<h3>Kuning</h3>
<p></p>
<p>Kuning adalah warna yang ceria, menyenangkan dan menurut saya sedikit &#8216;melompat-lompat&#8217;. Tidak heran warna kuning identik dengan mainan anak-anak. Kuning juga biasanya di gunakan untuk mendapatkan perhatian dari orang yang melihat desain kita.</p>
<p>Karena begitu kuatnya warna kuning ini, seringkali di gunakan untuk  mendapatkan perhatian orang. Ingat rambu lalu lintas yang memberikan  tanda bahaya? Semua di dominasi warna kuning atau merah (yang masih satu garis keturunan).</p>
<p><a href="http://www.brunomagalhaes.com.br/"></a></p>
<h3>Ungu</h3>
<p></p>
<p>Ungu adalah warna yang memberikan kesan spiritual, kekayaan dan kebijaksanaan. Saya jadi ingat desain baju penyihir / dukun / sejenisnya di jaman medieval, kebanyakan di dominasi warna ungu. Ungu juga warna yang unik karena sangat jarang kita lihat di alam.</p>
<p>Dengan menggunakan warna ungu kita bisa memberikan kesan unik pada desain kita, baik kita menggunakan secara dominan atau hanya sebagai aksen saja. Kelemahannya adalah sangat susah di padukan dengan warna lain, kita harus ekstra memikirkan warna yang cocok bersanding dengan warna ungu.</p>
<p><a href="http://www.henryhoffman.com/"></a></p>
<h3>Coklat</h3>
<p></p>
<p>Coklat adalah warna bumi, memberikan kesan hangat, nyaman dan aman. Namun selain itu, coklat juga memberikan kesan &#8216;sophisticated&#8217; karena dekat dengan warna emas. Bisa di bayangkan kesan &#8216;mahal&#8217; desain dengan kombinasi warna hitam dan coklat muda.</p>
<p>Dan tidak lupa, coklat juga bisa memberikan nuansa &#8216;dapat di andalkan&#8217; dan &#8216;kuat&#8217;. Saya membayangkan warna coklat bisa di gunakan di firma hukum sebagai warna utama perusahaan mereka.</p>
<p><a href="http://www.bloggerbakeoff.com/"></a></p>
<h3>Oranye</h3>
<p></p>
<p>Oranye adalah hasil peleburan merah dan kuning, sehingga efek yang di hasilkan masih tetap sama, yaitu &#8216;kuat&#8217; dan &#8216;hangat&#8217;. Warna ini sering di gunakan pada tombol website yang penting, seperti &#8216;buy now&#8217; , &#8216;register now&#8217; dan lainnya yang sejenis, istilahnya adalah &#8216;call to action&#8217; button.</p>
<p>Dari sisi psikologis sebenarnya warna oranye memberikan kesan tidak nyaman, dan sedikit gaduh. Mungkin karena sebab itulah warna ini paling banyak di pakai untuk menarik perhatian orang.</p>
<p><a href="http://www.mattdempsey.com/"></a></p>
<h3>Merah Muda</h3>
<p></p>
<p>Merah muda adalah warna yang feminin, kalau menggunakan warna ini pasti kamu berurusan dengan sesuatu yang bersifat kewanitaan. Efek cinta romantis juga bisa timbul dari warna merah muda ini, agak sedikit berbeda dengan warna merah yang lebih menggambarkan &#8216;gairah yang berani&#8217;.</p>
<p>Tetapi banyak juga desainer yang berani menggunakan warna merah muda ini dengan terang-terangan. Misalnya dengan kombinasi hitam dan merah muda sebuah desain bisa menjadi terlihat unik.</p>
<p><a href="http://www.odopod.com/"></a></p>
<h3>Putih</h3>
<p></p>
<p>Putih adalah warna yang murni, tidak ada campuran apapun. Makanya sering di anggap sebagai warna yang menimbulkan efek suci dan bersih. Ketika kita ingin membuat desain yang simple dan minimalis, menggunakan warna putih adalah langkah yang tepat (walaupun bukan cara satu-satunya).</p>
<p><a href="http://chriswoods.ca/"></a></p>
<h3>Hitam</h3>
<p></p>
<p>Hitam adalah warna yang gelap, suram, menakutkan tetapi elegan. Saya merasa elemen apapun jika di taruh di atas background hitam akan terasa lebih bagus (misalnya, pada waktu menampilkan foto, portfolio atau produk). Tapi tidak selalu efektif di dalam <a href="http://jurusgrafis.com/artikel/tips-membuat-tipografi-lebih-menarik-mudah-terbaca/" target="_blank">kasus tipografi</a>.</p>
<p><a href="http://www.futuretalent.org/"></a></p>
<h3>Kesimpulan</h3>
<p>Kombinasi warna yang tepat dapat memberikan karakter dan vibrasi pada suatu desain. Warna juga bisa di gunakan untuk mendapatkan perhatian orang yang melihat desain kita dan pada akhirnya mengerti pesan yang kita sampaikan melalui visual secara keseluruhan.</p>
<p>Sekarang pertanyaannya, apa warna favorit kamu? dan mengapa?</p>
<p><em>PS: Thanks to <a href="http://fikrirasyid.com/" target="_blank">Fikri</a> atas ide postingnya melalui komentar di FB Page Jurus Grafis! </em></p>
<p><em>Temui <a href="http://www.facebook.com/jurusgrafis" target="_blank">Jurus  Grafis di Facebook</a> dan ikuti <a href="http://twitter.com/jurusgrafis" target="_blank">Twitter Jurus  Grafis</a>. Kalau tidak ingin ketinggalan posting berikutnya, kamu bisa  berlangganan melalui <a href="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=JurusGrafis&amp;loc=en_US" target="_blank">Email</a> atau <a href="http://feeds.feedburner.com/jurusgrafis" target="_blank">RSS</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurusgrafis.com/artikel/psikologi-warna-desain-grafis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tinjauan Desain: Website Whiteboard Journal</title>
		<link>http://jurusgrafis.com/artikel/tinjauan-desain-website-whiteboard-journal/</link>
		<comments>http://jurusgrafis.com/artikel/tinjauan-desain-website-whiteboard-journal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2010 11:44:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richard Fang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Tinjauan Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Interface]]></category>
		<category><![CDATA[Tinjauan]]></category>
		<category><![CDATA[Usability]]></category>
		<category><![CDATA[Website]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurusgrafis.com/?p=1429</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang ini mulai banyak website baru buatan lokal muncul, dan ini merupakan indikasi yang bagus untuk industri desain website lokal. Maka dari itu Jurus Grafis membuat &#8216;rubrik&#8217; baru yaitu Tinjauan Desain (Design Review), yang pada saat ini membahas desain website sebuah majalah online bernama Whiteboard Journal. Pengenalan Singkat Whiteboard Journal adalah media publikasi online yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<p>Sekarang ini mulai banyak website baru buatan lokal muncul, dan ini merupakan indikasi yang bagus untuk industri desain website lokal. Maka dari itu Jurus Grafis membuat &#8216;rubrik&#8217; baru yaitu Tinjauan Desain <em>(Design Review)</em>, yang pada saat ini membahas desain website sebuah majalah online bernama Whiteboard Journal.<span id="more-1429"></span></p>
<h3>Pengenalan Singkat</h3>
<p></p>
<p><a href="http://whiteboardjournal.com/" target="_blank">Whiteboard Journal</a> adalah media publikasi online yang membahas bidang fashion, desain, hiburan dan seni. Kalau melihat materi yang di sampaikan tentu ini di tujukan untuk pembaca Internasional dan Lokal (menggunakan bahasa inggris).</p>
<p>Mempunyai fitur yang menarik seperti &#8220;<a href="http://www.whiteboardjournal.com/features/roundtable" target="_blank">Round Table</a>&#8221; yang berisi wawancara dan diskusi (podcast) dengan narasumber dan topik yang sedang hangat. Fitur &#8220;<a href="http://www.whiteboardjournal.com/features/column" target="_blank">Column</a>&#8221; dan &#8220;<a href="http://www.whiteboardjournal.com/features/focus" target="_blank">Focus</a>&#8221; dengan artikel dan insight yang mendalam, tidak lupa juga &#8220;<a href="http://www.whiteboardjournal.com/features/w_music" target="_blank">W-Music</a>&#8221; dan &#8220;<a href="http://www.whiteboardjournal.com/city-guide" target="_blank">City Guide</a>&#8221; sebagai pelengkap yang menyenangkan.</p>
<h3>Minimalis, Aksen dan Detail</h3>
<p></p>
<p>Desain homepage Whiteboard Journal sangat rapih, bersih dan tidak banyak basa basi. Sesuai dengan tagline mereka, A Concise Publication, publikasi yang ringkas. Di tunjukan dengan menggunakan slideshow di bagian atas (<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Above_the_fold" target="_blank">above the fold</a>) untuk meng-emphasis artikel dan konten inti terbaru yang ada di website ini.</p>
<p></p>
<p>Lalu di lanjutkan dengan lembut  ke berita terbaru di bawah slideshow. Yang menarik dari news feed ini adalah icon yang di gunakan pada masing-masing kategori berita, seperti penggunaan icon pensil untuk kategori Art &amp; Design, icon gantungan baju untuk Fashion, dan lainnya. Cara ini memberikan detil yang membantu para pembaca untuk menemukan kategori yang sesuai dengan minat mereka.</p>
<p></p>
<p>Di bagian sidebar kanan sebenarnya biasa saja, karena kebanyakan hanya iklan yang di taruh disana. Tapi ada satu yang menarik perhatian saya yaitu sebuah widget &#8220;Latest Feature&#8221; yang menggunakan metode <em>tabbed browsing</em> untuk mengakomodasi konten yang lumayan beragam. Dan menurut saya cara ini sangat efektif sekali untuk website tipe majalah.</p>
<p></p>
<p>Dan ditutup dengan rapih oleh footer yang informatif, berisi semua kategori berita dan fitur website, termasuk tautan ke online store Whiteboard Journal. Tak lupa juga bagian footer di jadikan area monetisasi untuk menaruh banner iklan.</p>
<p>Sedikit permasalahan usability di header adalah logo Whiteboard tidak bisa di klik untuk kembali ke homepage. Saya rasa ini sudah menjadi standard pada semua website kalau logo itu jika di klik harus kembali ke homepage.</p>
<h3>Halaman Berita</h3>
<p></p>
<p>Penggunaan foto dengan lebar yang sesuai dengan area konten membuat bagian ini tetap rapih, walaupun menurut saya besar font nya masih terlalu kecil, coba bayangkan orang yang membaca dengan resolusi 1440  ke atas, mereka pasti sedikit kesulitan.</p>
<p></p>
<p>Saya tidak mengerti mengapa tidak ada kolom komentar di akhir posting, rasanya ini bisa menjadi masukan. Atau memang sengaja tidak menggunakan kolom komentar?. Ini membuat kesan percakapan satu arah yang sudah tidak jaman lagi sekarang ini.</p>
<h3>Halaman Fitur yang Unik</h3>
<p>Kalau kita masuk ke salah satu fitur seperti &#8220;Round Table&#8221; maka layout yang di tampilkan menjadi agak berbeda. Sidebar di hilangkan sehingga area besar di tengah menjadi fokus. Kolom di bagi 2 sehingga kita merasa seperti membaca majalah cetak.</p>
<p></p>
<p>Yang menjadi masalah disini adalah flow membaca artikel, pertama karena tidak ada Drop Cap pada paragraf pertama, kedua karena tidak menggunakan H2 untuk huruf text yang lebih besar sebagai penanda dan ketiga tidak ada petunjuk kemana kita harus membaca selanjutnya, ke bawah atau ke kanan. <a href="http://jurusgrafis.com/artikel/tips-membuat-tipografi-lebih-menarik-mudah-terbaca/" target="_blank">Tipografi</a> harus di perhatikan lagi di bagian ini yang menurut saya sangat krusial.</p>
<p></p>
<p>Terakhir adalah pagination yang sangat terlalu kecil, kalau pembaca kurang jeli mungkin mereka melewatkan dan selesai membaca dengan bingung karena artikel belum selesai tetapi tidak ada lanjutannya lagi. Solusi nya adalah memperbesar angka pagination di bawah, dan berikan petunjuk yang jelas kita sekarang berada di halaman berapa.</p>
<h3>Salah Satu Contoh Layout Toko Online yang Baik</h3>
<p></p>
<p>Saya merasa bagian ini sangat baik, semua produk Whiteboard bisa langsung di lihat dengan mudah. Di tunjang dengan informasi ketersediaan barang pada setiap foto.</p>
<p></p>
<p>Yang kurang hanya tidak ada informasi harga sampai kita masuk ke dalam halaman detail produk. Tombol &#8216;Buy&#8217; yang terlalu kecil dan kurang kontras (ini berpengaruh kepada psikologi kita untuk mengklik atau tidak), dan terlalu di ulang-ulang sampai 3 kali. Saya rasa cukup dengan 1 tombol yang lumayan besar, warna kontras (kuning atau hitam pekat?) dan di tempatkan di samping harga atau di akhir informasi.</p>
<h3>Kesimpulan</h3>
<p>Whiteboard Journal bisa di jadikan standard yang sangat baik untuk desain website bertipe majalah yang berisi kategori beragam. Walaupun ada beberapa masalah usability di sana sini, namun saya rasa itu masih dapat di maklumi dan hanya masalah minor saja.</p>
<p>Menurut kamu bagaimana desain interface website Whiteboard Journal? Yuk berdiskusi di kolom komentar  </p>
<p>Dan kalau kamu tertarik website kamu di bahas di sini silakan kirimkan email ke,<br />
<strong><em>hello [at] jurusgrafis.com</em></strong> atau<strong><em> jurusgrafis [at] gmail.com</em></strong></p>
<p><em>Ayo berlangganan Jurus Grafis melalui <a href="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=JurusGrafis&amp;loc=en_US" target="_blank">Email</a> dan <a href="http://feeds.feedburner.com/jurusgrafis" target="_blank">RSS</a>, supaya kamu tidak ketinggalan artikel menarik berikutnya!. Temui juga <a href="http://www.facebook.com/jurusgrafis" target="_blank">Jurus Grafis di Facebook</a> dan ikuti<a href="http://twitter.com/jurusgrafis" target="_blank"> Twitter Jurus Grafis</a> untuk berita tambahan seputar desain. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurusgrafis.com/artikel/tinjauan-desain-website-whiteboard-journal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

